GAS CHROMATOGRAFHY (GC)


Laporan Praktikum                                                     Hari/Tanggal   : Kamis/03-11-2011
Pemeliharaan dan Pengoperasian Alat                         Waktu            : 08.00-10.40 WIB
                                                                                  PJP                : Atep Dian S, S.Si
                                                                                  Asisten           : 1. Diah Daru
                                                                                                         2. Dony


GAS CHROMATOGRAFHY (GC)


Nama Kelompok :
                              
                                               Hendri Bahtiar           ( J3L110083 )



PROGRAM KEAHLIAN ANALISIS KIMIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2011





GAS CHROMATOGRAFHY (GC)

Kromatografi adalah cara pemisahan campuran yang didasarkan atas perbedaan distribusi dari komponen suatu campuran. Pemisahan tersebut didasarkan pada dua fasa larutan, yaitu fase diam (stationary) dan fase bergerak (mobile). Fase diam dapat berupa zat padat atau zat cair, sedangkan fase bergerak dapat berupa zat cair atau gas. Fase bergerak dalam kromatografi dapat berupa gas atau zat cair dan fase diam dapat berupa zat padat atau zat cair.
Kromatografi terdiri dari bermacam-macam jenis yang salah satunya ialah kromatografi gas. Kromatografi gas (GC) adalah jenis umum dari kromatografi yang  digunakan dalam kimia analitik untuk memisahkan dan menganalisis senyawa yang dapat menguap. GC dapat digunakan untuk  pengujian kemurnian zat tertentu, atau memisahkan komponen yang berbeda dari campuran. Selain itu, GC juga dapat digunakan dalam mengidentifikasi suatu senyawa. Sistem peralatan kromatografi gas terdiri dari kontrol dan gas pembawa, ruang suntik sampel, kolom yang diletakkan dalam oven, sistem pendeteksi dan pencatat (detektor dan recorder), serta komputer yang dilengkapi dengan perangkat pengolahan data.
Fase gerak pada GC disebut dengan gas pembawa karena bertujuan untuk membawa solut ke dalam kolom. Fasa gerak yang digunkan dalam GC terdiri dari dua macam, yaitu gas pembawa dan gas pembakar. Gas pembawa biasanya berupa gas helium yang dimasukkan ke dalam tabung dan simpan pada tempat yang tertutup dan terlindungi dari sinar matahari. Syarat dari gas pembawa ialah tidak reaktif, murni/kering dan dapat disimpan dalam tekanan tinggi. Sedangkan gas pembakar biasnya berupa gas hidrogen karena sifatnya yang mudah terbakar dan memiliki suhu pembakaran yang tinggi. Helium maupun hidrogen harus disimpan dalam tabung bertekanan tinggi dan terlindung dari sinar matahari. Biasanya tabung yang digunakan berwarna merah untuk hidrogen, dan hijau untuk helium.
Lubang injeksi digunkan untuk memasukkan sampel ke dalam kolom sebelum dilakukannya pemisahan. Lubang injeksi terdiri atas saluran gelas yang kecil atau tabung logam yang dilengkapi dengan septum karet untuk membantu memasukkan sampel yang dibantu dengan menggunakan syiringe. Kemudian helium (gas pembawa) mengalir melalui tabung, dengan sejumlah volume cairan yang diinjeksikanakan segera diuapkan untuk selanjutnya di bawa menuju kolom.
Metode injeksi pada Gas Chromatography (GC) terdiri dari tiga cara pada proses penginjeksiannya, antara lain :
1.      Split Injection
            Split injeksi adalah salah satu metode injeksi pada gas kromatografi yang paling tua, paling sederhana dan mudah untuk menggunakan teknik injeksi. Prosedur ini melibatkan menginjeksi sampel dengan syringe ke dalam port injeksi panas melalui karet septum. Sampel yang diinjeksikan lebih cepat menguap dan hanya sebagian kecil dan biasanya 1-2% dari uap sampel masuk ke kolom. Suhu dalam injeksi port mencapai 3500 C.
Metode Split injeksi, sisa dari sampel akan menguap dan besar aliran gas pembawa akan membagikan melaui split atau katup pembersihan. Bagian dari sampel/pembawa campuran gas di ruang injeksi akan habis melalui lubang angin yang terbelah. Metode split ini lebih disukai ketika bekerja untuk menganalisis sutu sampel dengan konsentrasi tinggi (> 0,1 %). Beda dengan metode splitless yang paling cocok dengan konsentrasi rendah (0,01%).
2.      Splitless Injection
Metode Splitless Injection, sampel yang diinjeksikan kemudian diuapkan dalam injector panas dan dibawa ke dalam kolom karena katup pemecah ditutup. Suhu pada injector dalam metode ini mencapai 2200 C. Sampel akan menguap dan perlahan-perlahan terbawa ke arah kolom dengan aliran laju sekitar 1 ml/min. 
3.      ON-Column Injection
            Metode ON-Column Injection, ujung split dimasukkan ke dalam kolom. Teknik injection on column ini digunakan untuk senyawa-senyawa yang mudah menguap, dikarenakan jika penyutikkan melalui lubang suntik secara langsung dikhawatirkan akan terjadi peruraian senyawa tersebut karena suhu yang tinggi.
Kolom merupakan tempat terjadinya proses pemisahan karena di dalamnya terdapat fase diam. Oleh karena itu, kolom merupakan komponen sentral pada GC. Terdapat dua jenis kolom, yaitu kolom kemas (packing column) dan kolom kapiler (capillary column). Kolom kemas terbuat dari gelas atau logam yang tahan karat atau dari tembaga dan aluminium. Panjang kolom jenis ini adalah 1–5 meter dengan diameter dalam 1-4 mm. Kelebihan dari kolom jenis ini ialah kolom yang sudah kotor dapat dibersihkan dan diisi kembali sehingga penggunaannya dapat digunakan beberapa kali. Kolom kapiler sangat banyak digunakan karena kolom kapiler memberikan efisiensi yang tinggi. Kolom kapiler memiliki ukuran yang sangat panjang yaitu 20-30 meter, sehingga dapat menghasilkan pemisahan yang baik. Namun kolom jenis ini tidak dapat dikemas kembali, sehingga dalam penggunaannya harus diganti dengan yang baru jika kolom kotor maupun rusak.
Fase diam yang dipakai pada kolom kapiler dapat bersifat non polar, polar, atau semi polar. Fase diam non polar yang paling banyak digunakan adalah metil polisiloksan (HP-1; DB-1; SE-30; CPSIL-5) dan fenil 5%-metilpolisiloksan 95% (HP-5; DB-5; SE-52; CPSIL-8). Fase diam semi polar adalah seperti fenil 50%-metilpolisiloksan 50% (HP-17; DB-17; CPSIL-19), sementara itu fase diam yang polar adalah seperti polietilen glikol (HP-20M; DB-WAX; CP-WAX; Carbowax-20M) (Adamovics 1997). Terdapat beberapa tipe pelapisan fasa diam di dalam kolom, yaitu WCOT yaitu pelapisan meyeluruh fasa diam di dalam kolom, SCOT yaitu pelapisan kolom dengan fasa diam berbentuk butiran-butiran kecil, dan PLOT yaitu pelapisan kolom dengan fasa diam berbentuk butiran-butiran kecil yang berpori.
Komponen utama selanjutnya dalam kromatografi gas ialah detektor. Detektor merupakan perangkat yang diletakkan pada ujung kolom yaitu tempat keluar fase gerak (gas pembawa) yang membawa komponen hasil pemisahan. Detektor pada kromatografi adalah suatu sensor elektronik yang berfungsi mengubah sinyal gas pembawa dan komponen-komponen di dalamnya menjadi sinyal elektronik. Detektor pada GC termasuk detektor diferensial, dalam arti respon yang keluar dari detektor memberikan relasi yang linier dengan kadar atau laju aliran massa komponen yang teresolusi. Kromatogram yang merupakan hasil pemisahan fisik komponen-komponen oleh GC disajikan oleh detektor sebagai deretan luas puncak terhadap waktu. Waktu yang digunakan suatu zat sampai terbaca oleh detektor (waktu retensi) dalam kromatogram dapat digunakan sebagai data kualitatif, sedangkan luas puncak dalam kromatogram dapat dipakai sebagai data kuantitatif.
Dalam GC terdapat berbagai macam jenis detector yang umum digunakan, anatara lain :
a.       Detektor hantaran panas (Thermal Conductivity Detector_ TCD)
b.      Detektor ionisasi nyala (Flame Ionization Detector_ FID)
c.       Detektor penangkap elektron (Electron Capture Detector _ECD)
d.      Detektor fotometrik nyala (Falame Photomertic Detector _FPD)
e.       Detektor nyala alkali
f.       Detektor spektroskopi massa
Komponen GC selanjutnya ialah komputer. GC modern menggunakan komputer yang dilengkapi dengan perangkat lunaknya (software) untuk digitalisasi signal detektor dan mempunyai beberapa fungsi yaitu memfasilitasi pengaturan parameter-parameter instrumen seperti aliran fase gas suhu oven dan pemrograman suhu serta penyuntikan sampel secara otomatis, menampilkan kromatogram dan informasi-informasi lain dengan menggunakan grafik berwarna, Merekam data kalibrasi, retensi, serta perhitungan-perhitungan dengan statistik, dan Menyimpan data parameter analisis untuk analisis senyawa tertentu (Usman 2011). Program yang sering dignakan dalam pemograman GC ialah GC Solution. GC Solution merupakan salah satu aplikasi yang digunakan dalam alat instrumen GC yang berfungsi untuk mempermudah dalam malakukan analisis dan melakukan pemisahan sampel. Terdapat beberapa menu yang terdapat pada GC Solution, yaitu File yang berfungsi untuk membuat berkas baru maupun membuka berkas yang sudah ada, Methode yang berfungsi untuk menentukan metode yang akan dilakukan, dan Instrument yang berfungsi untuk mengatur parameter-parameter yang akan digunakan dalam pemisahan. Parameter yang dapat diatur ialah suhu injeksi, suhu detektor, suhu kolom, aliran gas, dan tekanan gas pada kolom.
Gas kromatografi (GC) memerupakan alat instrumen yang memerlukan perawatan dengan baik. GC harus mendapatkan perawatan yang baik agar dapat menghasilkan data yang benar dan akurat. Perawatan GC dapat dilakukan dengan melakukan menyimpan dalam tempat yang memiliki kelembaban dan suhu yang diatur. Hal tersebut bertujuan agar GC tidak mudah rusak akibar berkarat. Selain itu GC harus disimpan dalam tempat yang tidak terkena paparan matahari secara langsung dan diletakan dalam meja permanen agar terhindar dari kerusakan akibat terjatuh atau tergoyah. Selain itu, alat-alat pendukung seperti tabung gas pada GC harus disimpan pada tempat yang tertutup dan terhindar dari paparan sinar matahari agar tekanan di dalam tabung tidak membesar, sehingga dapat mengakibatkan gas didalam tabung memuai dan menghasilkan ledakan yang berbahaya.
            Keuntungan menggunakan kromatografi gas yaitu waktu analisis yang singkat dan ketajaman pemisahan yang tinggi, dapat menggunakan kolom lebih panjang untuk menghasilkan efesiensi pemisahan yang tinggi, hanya membutuhkan campuran cuplikan yang sangat sedikit, dan kesetimbangan partisi antara gas dan cairan berlangsung cepat sehingga analisis relatif lebih cepat dan sensitifitasnya tinggi.  Sedangkan kerugian menggunakan kromatografi gas yaitu hanya dapat digunakan untuk menganalisis sampel yang mudah menguap, tidak dapat dipakai untuk memisahkan campuran dalam jumlah yang besar, dan fase gas dibandingkan sebagian besar fase cair tidak bersifat reaktif terhadap fase diam dan zat terlarut.

Daftar Pustaka
Adamovics, J.A., 1997, Chromatographic Analysis of Pharmaceuticals, 2nd Edition.New York :Marcel Dekker.
Usman A. 2011. GC (Gas Chromatography). [Terhubung Berkala] http://orgchem.colorado.edu/hndbksupport/GC/GC.html (08 September 2011)

Thermogravimetri Analizer (TGA)



Puji dan syukur kami panjatkan ke ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Thermogravimetri Analizer (TGA) yang merupakan salah satu tugas mata kuliah Bahasa Indonesia.
Dalam Kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan dan pembuatan makalah ini.
            Kami sadar dalam penyusunan makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis dengan rendah hati dan dengan terbuka menerima masukan, saran, dan usulan guna penyempurnaan makalah ini.
Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.

Bogor, 23 November 2011


                                                                                                        Penulis










DAFTAR PUSTAKA

Boobit JM. 2011. Discovery TGA.  [terhubung berkala] http://www.tainstruments. com/ main.aspx?id=299&n=1&siteid=11 (21 November 2011)
Mufthi M. 2009. Metode analisis thermal. [terhubung berkala] http://banemo. wordpress.com/2009/12/27/metode-analisis-thermal/ (21 November 2011)
Singagerda L. 2009. Tugas metode analisis fitokimia. [terhubung berkala] http://www. slideshare.net/batinlinda/thermal-analysis-7924296# (21 November 2011)

A.                Analisa Termal
Analisa termal dapat didefinisikan sebagai pengukuran sifat-sifat fisik dan kimia material sebagai fungsi dari suhu. Pada prakteknya, istilah analisa termal seringkali digunakan untuk sifat-sifat spesifik tertentu. Misalnya entalpi, kapasitas panas, massa dan koefisien ekspansi termal. Pengukuran koefisien ekspansi termal dari batangan logam merupakan contoh sederhana dari analisa termal. Contoh lainnya adalah pengukuran perubahan berat dari garam-garam oksi dan hidrat pada saat mengalami dekomposisi akibat pemanasan. Dengan menggunakan peralatan modern, sejumlah besar material dapat dipelajari dengan metode ini. Penggunaan analisa termal pada ilmu mengenai zat padat telah demikian luas dan bervariasi, mencakup studi reaksi keadaan padat, dekomposisi termal dan transisi fasa dan penentuan diagram fasa. Kebanyakan padatan bersifat aktif secara termal dan sifat ini menjadi dasar analisa zat padat menggunakan analisa termal (Boobit 2011).
A.1            Thermogravimetri Analizer (TGA)
Dua jenis teknik analisa termal yang utama adalah analisa thermogravimetri (TGA), yang secara otomatis merekam perubahan berat sampel sebagai fungsi dari suhu maupun waktu, dan analisa diferensial termal (DTA) yang mengukur perbedaan suhu, rT, antara sampel dengan material referen yang inert sebagai fungsi dari suhu. Thermogravimetri merupakan teknik analisis untuk mengukur perubahan berat dari suatu senyawa sebagai fungsi dari suhu ataupun waktu. Analisis tersebut bergantung pada tingkat presisi yang tinggi dalam tiga pengukuran, yaitu berat, suhu, dan perubahan suhu. Hasilnya biasanya berupa rekaman diagram yang kontinyu.
A.1.1. Prinsip Penggunaan Thermogravimetri analizer (TGA)
Analisis Termogravimetri (TGA) adalah salah satu teknik analisis termal yang digunakan untuk menggambarkan berbagai bahan. TGA menyediakan informasi karakterisasi bebas dan tambahan untuk teknik termal. TGA mengukur jumlah dan laju (kecepatan) perubahan massa sebuah sampel sebagai fungsi temperatur atau waktu dalam suasana yang dikendalikan. Pengukuran yang digunakan terutama untuk menentukan panas dan/atau kestabilan bahan oksidatif serta sifat komposisi mereka. Teknik ini dapat menganalisis bahan yang menunjukkan massa baik kekurangan atau kelebihan karena dekomposisi, oksidasi atau hilangnya bahan mudah menguap (seperti kelembaban). Hal ini terutama berguna untuk mempelajari bahan polimer, termasuk termoplastik, termoset, elastomer, komposit, film, serat, pelapis dan cat (Mufthi 2009) .
Prinsip penggunaan TGA ialah mengukur kecepatan rata-rata perubahan massa suatu bahan/cuplikan sebagai fungsi dari suhu atau waktu pada atmosfir yang terkontrol. Pengukuran digunakan khususnya untuk menentukan komposisi dari suatu bahan atau cuplikan dan untuk memperkirakan stabilitas termal pada suhu diatas 1000oC. Metode   ini  dapat  mengkarakterisasi  suatu  bahan  atau  cuplikan  yang  dilihat  dari  kehilangan massa atau terjadinya dekomposisi, oksidasi atau dehidrasi. Mekanisme perubahan massa pada TGA ialah bahan akan mengalami kehilangan maupun kanaikan massa. Proses kehilangan massa terjadi karena adanya proses dekomposi yaitu pemutusan ikatan kimia, evaporasi yaitu kehilangan atsiri pada peningkatan suhu, reduksi yaitu interaksi bahan dengan pereduksi, dan desorpsi. Sedangkan kenaikan massa disebabkan oleh proses oksidasi yaitu interaksi bahan dengan suasana pengoksidasi, dan absorpsi.
A.1.2. Cara Menggunakan Thermogravimetri analizer (TGA)
Cara  menggunakan Thermogravimetri analizer (TGA) bergantung pada jenis dan merk alat. Alat dengan merk yang berbeda memiliki bagian yang berbeda pula. Thermogravimetri analizer (TGA) dilengkapi dengan alat atau bagian yang berbeda-beda sehingga cara menggunakannya disesuaikan dengan jenis alat. Cara pemakaian TGA dapat dilakukan dengan material yang berupa serbuk dimasukkan ke dalam cawan kecil dari bahan platina, atau alumina ataupun teflon. Pemilihan bahan dari cawan ini perlu disesuaikan dengan bahan uji. Pastikan bahan uji tidak bereaksi dengan bahan cawan serta tidak lengket ketika dipanaskan.                          
Analisa memerlukan juga bahan standar sebagai referensi dan penyeimbang dari timbangan mikro. Biasanya dipakai alumina sebagai standar yang juga perlu dimasukkan dalam cawan. Alumina dan bahan uji kemudian dimasukkan ke dalam alat TGA. Dalam melakukan analisis dengan TGA yang perlu dilakukan dengan sangat hati – hati adalah ketika meletakkan cawan – cawan diatas papan timbangan. Karena lengan dari pan timbangan sangat mudah patah sehingga dalam menempatkan dan mengambil kontainer perlu dilakukan dengan hati – hati.
Setelah sampel dimasukkan maka kita bisa memprogram urutan pemanasannya. Pemanasan bisa diprogram sesuai dengan kebutuhan misalkan kita bisa mengatur memanaskan sampel sampai 110 C dan ditahan 10 menit kemudian pemanasan dengan cepat dilanjutkan sampai 900 C kemudian suhu diturunkan menjadi 600 C ditahan selama 30 menit. Kita dapat memprogram temperatur dan juga kecepatan pemanasan, alat ini bisa memanaskan sampai sekitar 1000 C dengan kecepatan sampai 100 C/menit atau lebih tergantung tipe alat (Mufthi 2009).
A.1.3. Perawatan Thermogravimetri analizer (TGA)
Setiap selesai menggunakan Thermogravimetri analizer (TGA), timbangan (balance) dibersihkan dan disimpan pada tempat yang aman. Timbangan yang masih berisi pereaksi disimpan pada tempat yang jauh dari bahan lain yang berbahaya. Sebaiknya disimpan pada tempat yang tidak terkena sinar matahari secara langsung. Thermogravimetri analizer (TGA) sebelum digunakan harus diperiksa terlebih dahulu masih apakah berfungsi dengan baik atau tidak. Purge gas system pada TGA sebelum dan sesudah digunakan diperikasa apakah ada kebocoran gas atau tidak didalamnya.
A.1.4. Bagian-bagian Thermogravimetri analizer (TGA)

Thermogravimetri analizer (TGA)
terdiri dari beberapa bagian, yaitu sensitive analytical balance, Furnace (tungku pembakar), Purge gas system, Microcomputer atau  micro processor (Singagerda 2009).


A.1.4.1 Balance
 Berbagai jenis desin thermobalance dapat dijumpai secara komersil, jenis-jenisnya berdasarkan pada penyediaan informasi kuantitatif cuplikan dalam range massa, antara 1 mg – 100 g. Jenis balance yang umum  digunakan  adalah  yang  memiliki   range  antara  5-20  mg.  Prinsip  yang   terjadi  adalah  adanya perubahan  massa  cuplikan  menyebabkan  defleksi  pada  beam  yang  terpapar  sorotan  cahaya  antara lampu dan satu atau dua fotodioda. Ketidaksetimbangan pada fotodioda diamplifikasi dan masuk pada bagian  E,  dimana  bagian   ini  berada  diantara  kutub  dari  magnet  yang  permanent  oleh  F.  Adanya peningkatan  medan  magnet  menyebabkan  beam  kembali  pada  kondisi  awal.  Peningkatan  fotodioda dimonitor  dan  ditransformasi  menjadi   informasi  dalam  bentuk  massa  atau  kehilangan  massa  oleh system akuisisi data.
A.1.4.2 Furnace
Range   suhu  pada   sebagian  besar   furnace  adalah   sampai  1500oC.  Umumnya   kecepatan   rata-rata pemanasan atau pendinginan pada furnace dapat dipilih antara lebih dari 0oC/menit sampai 200oC/menit. Insulasi  dan  pendinginan  pada  bagian   luar   furnace  dibuat  untuk  menghindari   transfer  panas  pada balance.  Nitrogen  atau  argon  sering  digunakan  untuk  melindungi  furnace  dan  menghindari  oksidasi cuplikan.

A.1.5. Penanganan data Thermogravimetri analizer (TGA)
Temperatur yang terekam pada thermogram idealnya merupakan temperature nyata dari cuplikan. Pada prinsipnya,   temperature   ini   dapat   dipengaruhi   oleh   adanya   thermocouple   dari   cuplikan, yang disebabkan   karena dekomposisi katalitik dari cuplikan, kontaminasi cuplikan, kesalahan   pada pengukuran  massa.   Konsekuensinya   adalah   temperature   yang   terekam   umumnya   diukur   dengan thermocouple kecil yang   berada pada tempat cuplikan. Temperatur yang terekam akan menyimpang dari temperature cuplikan sebenarnya. Thermobalance  modern  biasanya  menggunakan  control   temperature   terkomputerisasi  yang   secara otomatis mengkomparasi tegangan keluaran dari thermocouple dengan table tegangan vs temperature yang  tersimpan  dalam  Read  Only  Memory  (ROM).  Mikro  computer  menggunakan  perbedaan  antara temperature dari thermocouple dan temperature yang terspesifikasi dalam ROM untuk menyesuaikan tegangan  dengan  pemanas.  Dengan  demikian  memungkinkan   adanya   kesesuaian   antara  program spesifikasi temperatur dan temperature cuplikan.
A.1.6. Kalibrasi Thermogravimetri analizer (TGA)
Kalibrasi merupakan hal yang penting dalam analisis menggunkan alat instrumen dalam laboratorium. TGA yang merupakan alat instrument dalam  laboratorium juga harus dikalibrasi untuk dapat menghasilkan hasil yang baik. Cara terbaik adalah untuk memeriksa kalibrasi TGA secara berkala. Kalibrasi TGA dapat dilakukan dengan memperhatikan sifat dari sampel yang diujikan. Jika menjalankan sampel yang relatif bersih dan tidak melapisi tungku atau tungku tabung, maka dianjurkan untuk memeriksa harian, mingguan, atau lainnya. Kalibrasi dapat dilakukan jika TGA dirubah rentang suhunya, mengubah gas pembersihan, dan jika alat akan dipindahkan atau direratakan. Kalibrasi TGA dapat dilakukan dengan cara melakukan restore defaults pada alat. Kemudian papan kesetimbangan dikosongkan, nol keseimbangan, dan tempat kalibrasi berat yang disediakan instrument dalam papan sampel. Setelah papan kesetimbangan diatur beratnya, kemudian dilakukan pengaturan pada tungku dan suhu.


A.1.7. Contoh aplikasi  dengan Thermogravimetri analizer (TGA)
            Thermogravimetri   sangat   penting   digunakan   pada   kajian  mengenai   polimer.   Thermogram   dapat memberikan  informasi mengenai mekanisme  dekomposisi  pada  berbagai  macam polimer. TGA  dapat  digunakan  untuk  analisis  kinetik.  Kecepatan   rata-rata  pada  proses  kinetika   tidak  hanya tergantung pada  suhu spesimen,  melainkan   juga  tergantung pada  waktu dimana  dia  dapat  bertahan pada  suhu  tersebut. Secara  tipikal, analisis  kinetika  terdiri dari parameter-parameter seperti Energi aktivasi (Ea), orde reaksi (k), dll. Energi aktivasi (Ea) dapat ditentukan pada jumlah energi minimum yang diperlukan untuk menginisiasi proses kimia. Thermogravimetri juga dapat digunakan untuk analisis kuantitatif untuk campuran calsium, stronsium dan ion barium. Ketiga-tiganya pada presipitat awal berada dalam bentuk monohidrat oksalat.
            Aplikasi  TGA  dan  Analisis  termal   lain,  seperti  TMA  dapat  digunakan  pada  karakterisasi  dan  evaluasi bahan  baku  pembuatan  obat,  misalnya  karakterisasi  dan  evaluasi  yang  pada IPN hidrogel terhadap pelepasan  antibiotic.  Dalam  penelitian   ini,  TGA  digunakan  untuk  mengetahui  proses  degradasi  yang terjadi, sementara TMA digunakan untuk mengamati kekuatan penetrasi. Penggunaan TMA secara tunggal dapat digunakan untuk menentukan viscositas obat amorf, misalnya indometacin. Pada penerapannya, temperature yang dipilih adalah temperature yang dekat dan sesuai dengan temperature transisi calorimetric glass.